Menyongsong Bulan Ramadhan

18 08 2009

ramadhan1-1 sumber gambar: http://media.photobucket.com/image/marhaban%20ramadhan/lilinjingga/ramadhan1-1.jpg

Tulisan ini bermula dari penunjukan saya untuk mengisi sebuah “pelajaran” tentang “Persiapan menjelang bulan Ramadhan”. Sayangnya, acara tersebut malah dibatalkan. Daripada kecewa dan ilmu tersebut berhenti, maka saya berinisiatif untuk sharing lewat blog saya ini. Semoga ada yang mau membaca tulisan sederhana ini dan bermanfaat bagi orang banyak dan saya sendiri.

Mungkin ada pertanyaan sederhana, kenapa kita harus membuat persiapan menyambut bulan Ramadhan? Sebelum menjawab pertanyaan itu, perhatikan dulu khotbah Rosululloh SAW menjelang Ramadhan yang diriwayatkan Imam Ali R.A.

“Wahai manusia, sungguh telah datang kepada kalian bulan Allah yang membawa berkah, rahmat dan maghfiroh, bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama, malam-malam di bulan Ramadhan adalah malam-malam yang paling utama, jam demi jamnya adalah jam yang paling utama. Inilah bulan yang ketika engkau diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Pada bulan ini nafasmu menjadi tasbih, tidurmu menjadi ibadah, tidurmu menjadi ibadah, amal-amalmu diterima, dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah, Rabmu dengan hati yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shaum dan membaca kitab-Nya. Sungguh celakalah orang yang tidak mendapatkan ampunan Allah pada bulan yang agung ini.”

Sebenarnya yang disampaikan dalam khotbah tersebut panjang sekali. Namun supaya lebih fokus, saya hanya menuliskan bagian awalnya sebagai dasar dari apa yang saya bahas tentang persiapan menyambut bulan Ramadhan.

  1. Dalam menyambut bulan yang mulia ini, kita harus menjaga diri dari apapun yang Allah haramkan. Kita tidak perlu menonton televisi sampai larut malam. Ingatlah kembali, bahwa televisi hakikatnya adalah alat hiburan. Jadi kita tidak memerlukan alat hiburan jika kita tidak sedang membutuhkan hiburan. Atau kalau kita menganggap televisi sebagai alat penyampai informasi, maka kita harus konsekuen hanya menonton TV untuk acara informasi yang benar-benar kita butuhkan. Jangan sampai kita menghabiskan waktu-waktu luang kita untuk hal yang sia-sia dengan menonton TV. Sebaliknya di bulan Ramadhan atau bulan-bulan lainnya kita bisa memanfaatkan waktu luang untuk membaca dan memahami alqur’an dan dzikir.
  2. Persiapan kedua dalam menyambut bulan Ramadhan adalah mulai shaum dari apa yang tidak disukai Allah. Mulai saat ini hindarkan telinga kita dari sesuatu yang tidak layak didengar. Lebih baik, dengarkan pengajian-pengajian atau ceramah-ceramah agama yang akan menambah iman dan taqwa kita. Sehemat mungkin berkata-kata yang tidak perlu. Berkatalah yang benar atau diam sehingga tidak terucap dari lisan kecuali kata-kata yang disukai oleh Allah.
  3. Siapkan rumah kita menjadi rumah yang penuh berkah di bulan ramadhan. Jangan sampai ada barang haram yang bukan milik kita ada disana. Mulai dari pakaian, coba cek lagi apakah di alamari pakaian kita ada pakaian pinjaman atau baju milik orang lain. Tengok ke dapur, adakah bahan-bahan makanan yang kita peroleh dengan cara tidak benar atau tidak halal. Periksa juga rak buku kita, adakah buku milik orang lain yang belum dikembalikan. Segera kembalikan barang-barang tersebut kepada yang berhak, sehingga ibadah kita di bulan Ramadhan menjadi benar-benar murni dan bernilai penuh tanpa penghalang dan berkurangnya pahala kita dari hal-hal yang bisa mengurangi nilai ibadah yang kita lakukan.
  4. Disamping membersihkan rumah, bersihkan pula pikiran dan hati kita dari pikiran negatif. Jangan pernah berpikir benci kepada seseorang karena bisa mengotori hati kita. Ketika pikiran kita disibukkan dengan perasaan benci, maka kita akan seperti membawa beban kemana saja kita melangkah. Mau pergi keluar, kita takut atau merasa malu kalau kita bertemu dengan orang yang dibenci. Jadi, dari pada membawa beban yang memberatkan langkah kita, lebih baik kita buang jauh beban tersebut.
  5. Mulai saat ini jadilah orang pemaaf. Tidak lagi terbersit dalam pikiran untuk membalas dendam. Perasaan dendam juga akan membuat penuh pikiran kita dengan rencana-rencana busuk yang sama sekali tidak menguntungkan kita. Kita harus memandang dari segi yang berbeda, bahwa dengan melampiaskan dendam akan merugikan orang lain dan nama kita menjadi buruk. Belum lagi kalau kita harus menanggung pengobatan luka yang harus diobati atau pecahnya silaturahmi yang sulit untuk diperbaiki. Apalagi jika ternyata kita sendiri terkena imbasnya, misalnya karena pelampiasan dendam, orang lain akan balik menyerang atau membahayakan kita. Intinya, dendam mempunyai nilai kerugian yang jauh lebih banyak daripada keuntungannya.
  6. Minta maaf kepada orang tua menjelang Ramadhan. Atau ziarahlah ke makam orang tua yang sudah meninggal. Minta ampunlah kalau kita belum sungguh-sungguh membahagiakan OrTu kita. Meminta maaflah dengan ikhlas insya Allah dengan meminta maaf terlebih dahulu, kita akan ringan memasuki Ramadhan. Sebaliknya, kita juga harus menjadi pemaaf dengan segera memaafkan orang yang minta maaf pada kita. Firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 133. “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,” dan ayat 134. “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”.
  7. Menjelang Ramadhan, dekatkan segala sesuatu yang akan membuat kita akrab dengan Allah. Tempatkan Alquran di tempat yang mudah kita lihat, sehingga kita bisa teringat untuk sering membaca Alqur’an. Begitu juga dengan buku-buku agama.
  8. Buatlah daftar orang yang harus dikunjungi. Mulai dari kakek, nenek, bibi, dan keluarga kita yang lain. Mengunjungi ulama juga penting, karena kita akan mendapat ilmu tambahan dan kita akan didoakan. Hal ini juga sesuai dengan pesan dari lagu “Tombo Ati” yang salah satunya adalah kita harus berkumpul dengan orang-orang yang sholeh.

Tulisan ini terinspirasi dan sebagian mengambil dari sumber “Menyongsong Jamuan Ramadhan” yang ditulis oleh Abdullah Gymnastiar. Semoga bermanfaat dan menjadi kebaikan bagi kita semua. Sekalian saya minta maaf pada pembaca atau teman-teman yang kenal dengan saya atau yang saya pernah melakukan kesalahan. Semoga bulan Romadhan ini menjadi bulan yang penh berkah bagi kita semua. Amien..

Tag Technorati: {grup-tag},,,,,

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: